Bersama Lakon, WIEF Lakukan Penanaman di Welirang

WIEF – Hutan bisa dikatakan sebagai jantung dan paru-paru bumi, karena didalam hutan bterdapat banyak tumbuhan yang dapat menyerap karbondioksida sekaligus dapat menghasilkan oksigen.

Hutan juga sebagai pengatur tata air, seperti itulah yang sering kita dengar, tapi apakah kita tahu siapa saja orang yang benar-benar tulus ikut melestarikannya selain perhutani?

Mungkin banyak dari beberapa aktivis yang memamng benar-benar tulus ingin menjaga dan melestarikan hutan dengan sukarela, seperti salah satunya adalah yang dilakukan oleh para Lakon bersama WIEF pada Minggu (17/04) di lereng Gunung Welirang.

Lakon sendiri merupakan singkatan dari “Laskar Konservasi” yang mana merupakan suatu wadah pelestarian lingkungan di daerah Trawas yang fokus pada konservasi sumberdaya air, dan konservasi hutan.

Lakon sendiri diplopori oleh “Yahya Setianto” (33) penduduk asli Trawas sejak tahun 2015. Namun kegiatan konservasi sudah dilakukan sejak 2007, dengan sasaran generasi muda terutama anak-anak sekolah seperti anak pramuka dan pencinta alam.

Uniknya, nama Lakon diambil dari istilah jawa “Lelakone Urip”. Tujuannya untuk mengajak masyarakat Trawas melestarikan sumberdaya air, tanah, hutan, dan udara. Lakon sendiri bukanlah suatu komunitas tapi suatu ajakan untuk masyarakat sekitar dan para aktivis lingkungan.

“Saya ambil nama Lakon untuk pergerakan konservasi karena orang tua disini memberikan sesuatu jangan lupa asal usul. Asal usulnya dari orang-orang bijak yang tau, kalau kita minumnya dari sumber setidaknya kita harus menjaga sumber,” kata aktivis lingkungan yang juga Pembina Pramuka itu.

“Kalau memang ketergantungan dari alam berarti kita juga harus beri sumbangsih kealam. Jadi harus ada asas timbal balik, yang kami harapkan bukan hanya reboisasinya tetapi juga perawatannya, minimal 5-8 tahun dan itu harus difikirkan secara matang dan berkala,” pesannya saat dihubungi wartapala.

Tidak hanya menanam namun para anggota Lakon juga merawat tanaman yang mereka tanam hingga tanaman tersebut tumbuh besar kurang lebih 5-8 tahun. Kawasan yang ditanamai tidak hanya pada hutan konservasi namun hutan produksi dan hutan lindung juga ditanami.

Bukan hanya dari perhutani saja namun orang-orang jagawana, tahura, dan relawan-relawan yang peduli tentang lingkungan ikut serta dalam kegiatan pelestarian alam.

“Kami tidak mampu meninggalkan monument sebagai kenangan, kami hanya mampu meninggalkan satu pohon untuk 1000 kehidupan untuk sekarang dan masa yang akan datang,” Para Lakon.

Laporan : Humas WIEF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *